Curiosity

Saya masih ingat banget dengan seorang Bapak Dosen saya dulu yang pernah posting gambar George (si curious monkey) di facebook dan diberi caption kurang lebih begini :

“George is more curious than most of my student”

Awal baca, pikiran saya campur aduk antara mau ketawa atau mau sedih. Mau ketawa kenapa ? Karena menurut saya statement itu ada sisi humorisnya. Tapi di sisi lain saya sedih karena saya juga adalah mahasiswa beliau. Artinya saya pun masih kalah curious daripada si monyet itu. 😦

Saya mencoba menebak kenapa Dosen saya mengeluarkan statement itu. Kalau menurut yang saya amati, ini nggak lepas dari perkuliahan yang beliau bawakan, yaitu Pengolahan Sinyal. Nah, ini adalah salah satu mata kuliah yang sangat, sangat dan sangat absurd, susah dipahami (bagi saya). Bapak Dosen saya ini di awal kuliah sebenarnya juga sudah menyampaikan kalau mata kuliahnya ini sulit, lalu beliau ngasih motivasi begini, “jika kalian berhasil menguasai mata kuliah ini, maka kalian akan bisa membuat dunia tersenyum”. 🙂

Ketika kuliah, kebanyakan semuanya berjalan searah yaitu dari Pak Dosen menyampaikan materi dan mahasiswa cuma ngangguk-ngangguk termasuk saya. Gak tau apakah sudah ngerti atau belum, yang penting ngangguk. Haha.. Akhirnya ketika Pak Dosen meminta feedback baik berupa pertanyaan atau protes ya gak ada mahasiswa yang ngasih. Ada paling satu orang ya itu itu saja, memang anaknya di atas rata-rata sih.

Bapak Dosen saya kemudian berikan tugas untuk bikin Critical Review untuk materi yang akan beliau sampaikan. Harapannya dari situ akan muncul banyak pertanyaan ke bapaknya. Tapi apalah, tetep aja yang bisa nanya yaa orang itu aja yang sama. Mahasiswa lain seperti saya ini hanya dengerin aja dan cuma berapa persen aja yang nyangkut di otak. Hehe.. Yah, akhirnya tetep aja pancingan curiosity dari dosen saya untuk para mahasiswa ini masih mental. Pemikiran kritis mahasiswa yang beliau harapkan ternyata masih belum bisa keluar sepenuhnya.

Curiosity biasanya kita kenal dengan rasa ingin tahu, atau anak jaman sekarang nyebut kepo. Menurut saya ini berhubungan dengan ketertarikan atau passion seseorang. Bagi seorang yang tidak punya ketertarikan pada suatu hal, maka akan susah baginya untuk mengorek lebih dalam pada hal itu. Namanya juga udah gak tertarik, ya udah biarin aja mau bagaimanapun. Beda halnya dengan seorang yang tertarik pada hal tertentu, maka sekecil apapun informasi tentang hal itu bakalan dikorek habis-habisan sampai akarnya.

Contoh sederhananya, misal ada seorang seneng banget modifikasi sepeda motor untuk keperluan tertentu. Baginya, informasi update sedikit apapun seputar motor akan dia perdalam sampai akarnya dan sampai dia menguasai ilmu baru itu.

Seseorang menemukan curiosity pada satu hal terkadang juga melalui bermacam cara. Ada yang dengan cara dia memperdalam terus by theory dan ada juga yang dengan praktek langsung aplikasi. Bagi orang yang menyukai pendalaman teoritis, mereka akan kuat berlama-lama tenggelam dalam literatur untuk memuaskan hasrat curiosity mereka. Kalau saya sendiri adalah tipikal yang kedua, by practical, karena saya tidak kuat jika terlalu lama tenggelam dalam literatur-literatur.

Ada satu hal menarik yang saya temukan dalam kerja saya saat ini, yaitu saya temukan curiosity yang dimaksud oleh dosen saya itu. Awal yang menumbuhkan curiosity saya adalah tentang pesawat. Bagi saya pesawat adalah teknologi tinggi yang keren. Saya merasa tertantang untuk bisa menguasai teknologi ini meskipun saya belum pernah merasakan langsung naik pesawat itu gimana.

Ketika saya coba breakdown sistem apa saja yang ada di pesawat, rasa penasaran / ingin tahu / curiosity saya ini malah makin menjadi jadi. Semakin rumit sistemnya, semakin penasaran juga saya ingin bisa paham dan mengerti. Apalagi kalau sudah dibumbui “sulit” oleh senior, maka bagi saya itu adalah tantangan yang harus saya jawab. Rasa penasaran

Ketika kegiatan troubleshooting sistem, saya akan berusaha explore sedalam-dalamnya apa sih root cause-nya, kenapa bisa gini, kenapa bisa gitu. Bahkan seringkali malah fisik saya yang nggak kuat, padahal keinginan saya masih kuat untuk lanjut. Kadang juga malah kebawa mimpi, turun ke lapangan, lalu nemuin solusi, seneng, eh ternyata cuma mimpi. Hehe..

Yah, itulah yang saya rasakan sekarang. Menurut saya mungkin ini yang dimaksud Dosen saya dulu tentang istilah curiosity. Bagi saya, apa yang sedang saya rasakan ini adalah bentuk motivasi yang tak ada matinya untuk terus memperdalam keilmuan tentang suatu hal tertentu.

Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa rasa seperti ini nggak keluar pas jaman kuliah dulu ? Ya, mungkin jawabannya seperti paragraf atas itu, bahwa bagaimana memunculkan curiosity itu tergantung setiap individu. Nah, kalau saya ini munculnya karena tipikal saya sendiri adalah orang practical yang kebetulan juga sekarang bergelut di dunia praktis. Nyambung jadinya, karena sesuai dengan passion saya sendiri juga. Sedangkan dulu jaman kuliah semuanya by theory, jadinya saya susah memvisualisasikan apa sih sebenarnya yang sedang saya pelajari, dan buat apa juga saya pelajari itu. Karena motivasi, passion itu nggak ada, maka curiosity saya pun juga nggak keluar secara optimal. Adanya paling cuma pertanyaan kritis seadanya karena tuntutan nilai saja. Hehehe..

Jadi kesimpulannya menurut saya, kalau memang ingin mengeluarkan curiosity dalam diri kita, coba tanya pada diri kita sendiri tentang kenapa sih kok saya harus curious pada satu hal itu, menariknya apa, urgensinya apa, manfaatnya apa, dan seterusnya. Gali terus saja dan pada akhirnya kalau sudah dapet titik temunya insya Alloh rasa penasaran dan ingin tahu itu akan keluar. Selama kita belum bisa menemukan apa hal menarik dari sesuatu yang ingin kita perdalam, rasa penasaran / curiosity akan susah untuk keluar sepenuhnya.

Itulah sedikit pandangan saya tentang curiosity. Semoga bermanfaat. 🙂

Posted in Hanggar, Perspektif | Tagged , , , , | Leave a comment

Trip to Surabaya

“Dik, gimana persiapan ke Surabaya ?”

“He? Surabaya? Ada apa ya Pak, kok saya malah belum tau kabar”

“Wah, belum ya. Yaudah nanti saya kontak ketua timnya ya”

Yak, obrolan pagi dengan atasan saya di Hanggar DC awal Januari lalu itu awalnya bikin saya bingung. Gak ada hujan gak ada angin tetiba tanya tentang Surabaya. Emang ada apa di Surabaya ? Awalnya saya mikir apa maksudnya itu ada panggilan tes kerja di Surabaya. Wkwkwkwk… Gak mungkin lah, mana ada. :v

Ternyata, di belakang para senior saya sudah bahas tentang tim yang bakal dikirim untuk rektifikasi pesawat yang sedang trouble di Surabaya. Nah, nama saya dimasukkan dalam tim tersebut. Tim yang bakal berangkat ke Surabaya ini adalah tim yang ketiga. Tim pertama untuk pesawat satu, tim kedua untuk pesawat dua, dan tim ketiga tentunya untuk pesawat ketiga. Alhamdulillah, akhirnya saya dipercaya untuk masuk tim. Horee.. 😀

Berangkat

Jpeg

Berangkat dari Stasiun Bandung

Senin, 16 Januari 2017 pukul 16.50, kami berangkat berlima dari Stasiun Bandung naik kereta Mutiara Selatan (Bandung – Surabaya Gubeng). Naik kereta ? iyaaa naik kereta. Jadi meskipun kami kerjanya benerin pesawat, berangkatnya tetep naik kereta dong, biar terus membumi. Wkwkwkwk… *ngeles*

Jpeg

Gerbong Bisnis 1 – KA Mutiara Selatan

Naik kereta Mutiara Selatan ini adalah yang pertama buat saya, apalagi kelas bisnis. Haha. Eh, tapi anehnya pas malam saya malah susah tidurnya. Enggak tau kenapa. Padahal kursinya enak. Biasanya naik kelas ekonomi aja bisa pules, lhaa kok ini naik bisnis malah gak bisa tidur pules. Nggak tau kenapa.

Selasa, 17 Januari 2017 pukul 06.30 kami sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya. Alhamdulillah. Akhirnya sampai. Nah, ini kali pertama juga saya tau Stasiun Gubeng. Hahaha. Saya sebenarnya sering ke Surabaya, tapi selalu pakai bis, jadi njujuknya ya Terminal Bungurasih, bukan Stasiun Gubeng ini.

Jpeg

Gedung Stasiun Gubeng – Surabaya

Menuju TKP

Karena hari selasa itu sudah dihitung dinas, artinya harus segera di-eksekusi itu pesawatnya. Dari Gubeng ternyata kami gak perlu repot-repot nyari angkutan untuk ke lokasi. Pihak customer ternyata baik banget jemput kami di stasiun. Karena hari masih pagi, jalanan Surabaya masih lengang, jadi mobil bisa lebih cepat. Tak lupa kami mampir dulu sarapan nasi pecel khas Jawa Timur. Aduuh, bener-bener ini mengobati kangen sama suasana dan makanan Jawa Timuran.

Selesai sarapan, kami lanjutkan perjalanan sampai markas customer di area Lanudal Juanda. Kami masuk ke area militer yang terjaga ketat, nggak sembarang orang bisa masuk. Langsung saja kami ke hanggar pesawatnya yang ternyata tepat banget di samping runway Bandara Juanda.

Jpeg

Pesawat Boeing 777 di Runway Bandara Juanda

Lagi-lagi ini adalah rekor dalam hidup saya, pertama kali saya sebagai orang Jawa Timur melihat langsung Bandara Juanda. Ternyata, bandaranya guedeeee banget, runway-nya puanjaaaaang. Pesawat yang di sana juga gede-gede macam Boeing 777 dan 747. Airbus A320 yang biasanya kelihat gede di Bandara Husein, di sini malah kelihat mungil. Juga saya baru lihat banyak maskapai-maskapai nyeleneh macam Sriwijaya, NAM, Saudi Arabia, Singapore Airlines, dkk. Wuaah… memang subhanalloh banget ini bandara. Hahaha..

On Mission

Baru datang bukan berarti leyeh-leyeh. Setelah menghadap komandan lalu dapet ijin buat ngerjain di pesawat, kami langsung singsingkan lengan baju untuk kerjakan misi utama. Haha (lebay). Jadi masalah yang saya tangani di sini cuma ada di satu sistem saja, yaitu radar. Tapi proses rektifikasinya lumayan berat, harus bongkar cockpit dan nose radome pesawat. Karena komandan sudah pesan bahwa hari kamis pesawat mau dipakai, jadi kami atur strategi pengerjaan se-efektif mungkin.

Jpeg

Display Radar ini nih yang saya rektifikasi

Pekerjaan rektifikasi radar ini sebenarnya sudah dilakukan di pesawat satu dan dua. Sekarang, yang saya kerjakan adalah di pesawat ketiga. Jadi paling tidak, gambaran pekerjaan sudah ada jelas lah seperti itu.

Singkat cerita, hari pertama on mission berjalan lancar namun belum selesai 100%, baru selesai sekitar 68.371% (gak tau ini itungan darimana, pokoknya sekitar itu. :p). Kami pulang sore, lalu nyari penginapan di daerah Sedati.

Nah, Sedati. Daerah ini mengingatkan saya jaman nyari kerja dulu pernah numpang nginep di rumah saudara temen tes. Saya masih inget banget itu belokan ada SPBU lalu ada masjid gitu. Tapi coba saya ingat-ingat masjidnya yang mana, saya malah gak nemu.

Esok harinya, Rabu, 18 Januari 2017 pagi, kami dijemput lagi oleh customer yang baik banget di penginapan. Kami berangkat melanjutkan pekerjaan tersisa di hanggar. Dengan kerjasama yang baik dan ketangkasan kerja bapak mekanik kami, cukup setengah hari kami sudah berhasil menyelesaikan masalah radar ini. Alhamdulillah ~

Tapi, tim kami yang lain masih berjibaku menyelesaikan masalah lainnya macam indikator yang nggak jalan, air conditioning, struktur, dll. Akhirnya, kami pun juga ikutan bantu mereka dulu biar bisa selesai bebarengan. Syukurlah, akhirnya satu per satu masalah itu bisa ditemukan solusinya.

Hari kedua ini kami pulang agak malam, jam 20.00. Personil customer pun juga ikutan lembur jadinya, soalnya perlu ngetes sambil engine ON. Seperti kemarin, selesai pekerjaan, kami diantar lagi ke penginapan yang kemarin di Sedati.

Mission Accomplished

Hari ketiga, Kamis, 19 Januari 2017, kami targetkan semua selesai. Sebenarnya kemarin juga sudah selesai sih. Semua masalah sudah ketemu solusinya. Tapi, hari ini ada tim susulan yang bakal ngerjain structure repair, jadi kami yaa support lagi. Sambil menikmati kopi, gorengan, dan snack lain yang sudah disediakan, kami menonton orang-orang struktur yang lagi kerja, sambil menikmati pemandangan Bandara Juanda yang keren. Wkwkwkwk…

Karena setengah hari kok gabut terus, akhirnya setelah sholat Dhuhur leader tim saya meminta ijin ke komandan untuk pulang. Kebetulan leader tim saya ini orang Surabaya, jadinya yaa beliau pulang lah ke rumah. Saya akhirnya juga ikutan, pulang aja lah ke Kediri, cuma 3 jam dari Surabaya sekalian menikmati bis-bisan ala Jawa Timuran. Hokyaaa ~

Oleh customer, saya diantarkan ke Terminal Bungurasih, sedangkan leader saya diantar langsung ke rumahnya di Surabaya. Sesampai di Bungurasih, saya keinget pesenan mbak Nur. Saya coba track di maps, ternyata tempatnya jauh dari Bungurasih. Haduuh… Yah, sudahlah anggap saja travelling di kota ini. Hehe…

Another Mission

Karena saya masih bingung pakai alat transport online, saya masih pakai konvensional saja, yaitu bis kota. Duh, bis kota di Surabaya ini juga mengingatkan saya jaman perjuangan nyari kerja dulu. Aduh, kesannya dapet lah pokoknya naik bis kota ini sambil nostalgia. 😀

Jpeg

Naik bis kota jurusan Stasiun Gubeng. Bisnya seperti bekas bis SK

Pesenan mbak Nur adalah sambel Bu Rudy di daerah Dharma Husada. Embuh itu daerah mana saya juga belum tau. Saya tanya mas kondektur, katanya paling deket itu turun di SPBU Jalan Banda atau apa gitu nama pulau. Trus disuruh jalan masuk, sampai ketemu jalan gede lalu ikutin aja.

Walah, pas saya ikutin jalan itu terus lhaa kok ketemu Stasiun Gubeng. Wkwkwk… balik lagi ke tempat dua hari yang lalu sih. Sebelah stasiun ada jalan gede namanya Jalan Prof. Dr. Mustopo, nah kalo itu diturut teruuuus maka sampailah di warungnya Bu Rudy itu.

Jpeg

Ketemu Staisun Gubeng ini lagi

Sambil menggendong ransel keril dan bersepatu safety, saya coba jalan kaki saja lah sambil menikmati panas kota Surabaya. Lumayaaan. Hehehe. Tapi ternyata capek juga, berasa mandi keringat siang-siang jalan bawa ransel keril di tengah kota Surabaya. Jalan dapet sekitar 1 km, saya udah kerasa capek parah ini. Nah, kebetulan lewat Kampus A UNAIR (Kedokteran). Wuaaah, saya berharap ada mbak-mbak dokter baik hati mau barengin saya biar kayak FTV. Eh, tapi ternyata gak ada. Wahahaa… payah. Tetap aja harus jalan kaki.

Saya coba mau nyegat angkot, tapi akhirnya saya urungkan. Pengalaman saya nunggu angkot di Surabaya itu semprul banget, lewatnya luamaaa, banyakan ngetem. Akhirnya, saya putuskan terus jalan ajalah.

gubeng-bu-rudy

Maps : Dari Stasiun Gubeng lewat Jalan Prof. Dr. Mustopo sampai ke Bu Rudy sekitar 2 km

Udah kerasa lemes ini kaki, ketemu SMKN 5 Surabaya saya pengen istirahat dulu lah. Eh, ternyata Depot Bu Rudy ini di kanan jalan depan SMK itu agak ke sana dikit. Aduh, Alhamdulillaah sampai jugaak. Langsung deh saya nyebrang, saya telpon mbak Nur mau pesen apa aja. Saya juga penasaran, akhirnya beli juga lah beberapa makanan khas di situ yang kelihatannya kok enak. 😀

Jpeg

Depot Bu Rudy

Pulang

Mission ke Bu Rudy sudah selesai, waktunya pulang ke Kediri. Lagi-lagi saya jalan kaki menelusur jalanan yang rame. Beberapa kali saya ditawarin ojek, tapi saya prefer jalan aja lah sambil mau nyari makan siang.

Abis makan siang saya coba cari angkot arah Bungurasih, tapi gak dapet. Saya dapet angkot dari daerah UNAIR situ ke Stasiun Wonokromo. Ini saya dikasih tau sama bapak TNI AL yang juga mau ke Bungurasih. Akhirnya kami bareng naik angkot, lalu oper bis kota.

Yeah, akhirnya sampai juga di Bungurasih. Wuah, sekarang jadi tambah mewah, super bersih dan aman terjaga. Banyak personil DLLAJ atau tentara yang tersebar untuk keamanan penumpang. Memang, Bungurasih ini adalah terminal idola saya pokoknya. Seneng kalo main ke sini. Hehe…

Jpeg

Selamat Datang di Terminal Purabaya – Surabaya (biasanya disebut Terminal Bungurasih)

Jpeg

Gedung Terminal Bungurasih udah modern banget, mirip bandara malahan

Tak lupa saya ambil beberapa foto-foto bis biar bisa di-upload ke grup Bis Mania Jawa Timur. Selesai ambil foto, saya putuskan buat naik bis kesayangan, PO Harapan Jaya (Surabaya – Tulungagung) yang sudah di shelter dan siap berangkat.

Jpeg

Shelter bis antar kota di Terminal Bungurasih

Jpeg

Penampakan lumba-lumba bis favorit, PO Sugeng Rahayu (Surabaya – Yogyakarta)

Jpeg

PO Restu Agung – Patrick : Ini bis ke timur, arah Probolinggo dan sekitarnya

Jpeg

Deretan bis pantura dan arah timur sampai Denpasar, Singaraja

Jpeg

Bis Cepat PO Sugeng Rahayu. Belum pernah ngerasain bareng ini nih

Oke, misi di Surabaya sudah selesai dengan sukses, Alhamdulillah. Waktunya pulang ke Kediri dan berkumpul bareng keluarga. 🙂

Jpeg

Bismillah. Pulang bareng bis PO Harapan Jaya ATB

Posted in Trip | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Teknik Fisika dan Pesawat #5 : AEI Engineering (4)

Masih tentang sistem elektrik yang belum habis. Kalo bicara soal elektrik nggak hanya menyediakan power dari generator sampai ke user, tapi ada juga sub sistem lain yang masuk kategori elektrik. Yuk, coba kita mulai :

2. Sistem Lighting

Sistem pencahayaan atau bahasa inggrisnya lighting masuk juga dalam kerjaan orang elektrik (AEI). Di pesawat sistem ini dibagi menjadi dua :

a. Internal Lighting

Internal lighting adalah sistem pencahayaan di dalam cockpit maupun cabin. Kalo bahas lighting yang ini sebenernya mengingatkan saya pada matkul Fisika Bangunan, karena pernah dulu ada tugas akuisisi data pencahayaan di Masjid Kampus. Hehe. Kalo di pesawat sekarang gak ada akuisisi data macam begitu, langsung pasang aja. Mungkin kalo di pesawat prototype macam N219 bakalan ada akuisisi data seperti itu.

Nah, internal lighting ini ada beberapa macam :

  • Flight compartment lighting : ini adalah lighting pada instrumen-instrumen pesawat. Kebanyakan di cockpit dan beberapa di cabin. Tujuannya agar flight crew bisa melihat dengan jelas simbol-simbol instrumen ketika kondisi gelap
Jpeg

Overhead Panel Lighting

  • Main cabin lighting : ini perlampuan di cabin, ya standar lah seperti itu. Pasti tau bagi yang sudah pernah naik pesawat. :p
Jpeg

Main Cabin Lighting (Pesawat jaman belum jadi. :D)

  • Cargo compartment area lighting : khusus pesawat cargo kalo ini
  • Passenger signs : ini lampu panel peringatan atau pengumuman untuk penumpang misal “fasten seatbelt”, “no smoking”, dkk.
seatbelt

Fasten Seat Belt dari sini ambil gambarnya : http://archive.onearth.org/files/onearth/seatbelt.jpg

Itu basic internal lighting di pesawat yang saya ketahui. Mungkin di pesawat lain yang lebih besar internal lighting-nya bakal lebih kompleks lagi.

b. External Lighting

External lighting ini adalah lampu-lampu pesawat yang ada di luar badannya. Lampu-lampu di luar ini dioperasikan dari cockpit oleh crew untuk monitoring atau sebagai penanda. External lighting ini nih macamnya :

  • Position / navigation lights : ini lampu yang di ujung sayap (winglet / wingtip) dimana yang kiri berwarna merah, yang kanan warna hijau. Warna ini standar untuk semua pesawat apapun sebagai penanda posisi kanan / kiri pesawat sehingga dari jauh bisa tau pesawat itu bergerak mendekat atau menjauh
  • Anti-collision lights : ini lampu yang kelap-kelip di pesawat kalo dia mau engine ON dan ketika terbang. Biasanya letak lampunya ada di ujung atas tail dan area bawah fuselage
  • Landing lights : lampu ini ada di bawah LH / RH wings. Sesuai namanya, fungsinya adalah untuk membantu crew ketika landing
  • Taxiing lights : lampu ini ada di daerah nose landing gear (roda depan). Sama juga seperti namanya, lampu ini dipakai untuk membantu crew ketika pesawat taxi (taxi : istilah pesawat ketika jalan di darat)
  • Runway turn-off lights : nah ini ada di daerah LH / RH fairings kalo untuk CN235. Saya belum nangkep maksud lampu ini buat apa. Maaf ya. Hehe
  • Wing inspection lights : lampu ini ada di area depan fuselage sebelah kiri dan kanan. Fungsinya untuk menerangi area sayap dan engine pesawat. Kali aja si crew pengen lihatin area sayap atau engine ya pakai lampu ini biar jelas. Hehe
external-lights

External Lights CN235 dan C295. Foto Pak Noviarli Wahyudi di Facebook https://www.facebook.com/noviarli.wahyudi/photos_all

Nah itulah external lighting. Sama seperti yang internal, mungkin di pesawat lain ada beda dan tambahan tergantung keperluan pesawat untuk apa.

3. Elektrik – Hidrolik – Pneumatik – Mekanik

Terakhir, ini yang saya maksud adalah sistem elektrik yang berhubungan dengan sistem lain macam hidrolik, mekanik dan teman-temannya. Dengan perkembangan teknologi semua sistem itu sekarang dikendalikan pakai elektrik. Namun di pesawat NC212 dan CN235 masih ada juga sistem yang fully mekanik, misal flight control surface seperti aileron, elevator dan rudder. Kalo untuk pesawat yang sudah fly by wire macam N250 dulu, itu semua kontrol sistem pakai elektrik.

Coba saya bahas di sini beberapa sistem elektrik yang dipakai untuk kontrol sistem lain :

a. Elektrik – Hidrolik

Ini sistem utamanya adalah hidrolik, namun operasinya pakai elektrik. Dulu N250 untuk penggerak control surface hidroliknya yang fly by wire pakai mekanisme seperti ini. Kalo sekarang di pesawat CN235 yang saya tau memakai mekanisme ini adalah :

  • Ramp door (pintu cargo belakang)
  • Landing gear retract (roda pesawat untuk extend – retract)
  • Propeller brake (pengereman putaran propeller / baling-baling)
  • Nose wheel steering (mirip kayak power steering mobil lah ya)
  • Braking system (sistem pengereman)
  • Flaps (control surface di bagian sayap kiri / kanan)
Jpeg

Ramp Door CN235 : Sistem Elektrik – Hidrolik

mlg-cn235

Landing Gear CN235 : Sistem Elektrik – Hidrolik. Foto Pak Noviarli Wahyudi di Facebook https://www.facebook.com/noviarli.wahyudi/photos_all

Jpeg

Propeller Brake CN235 : Sistem Elektrik – Hidrolik

b. Elektrik – Pneumatik

Sistem ini cuma sedikit sih. Yang saya tau pakai mekanisme ini adalah air conditioning, CPCS (Cabin Pressurize Control System) dan sistem anti-icing. Saya nggak bisa bahas banyak soal ini, ilmu saya belum nyampai. Maaf nggih.. 🙂

c. Elektrik – Mekanik

Untuk pesawat fly by wire, sistem ini dipakai pada mekanisme flight control surface  (aileron / elevator / rudder) dengan bantuan motor. Kalo pesawat yang flight control surface-nya masih fully mekanikal, yang saya tau sistem ini untuk menggerakkan motor trim masing-masing flight control surface tersebut. Apa itu trim ? Biasa, gugling aja deh ya. Hehe. Nah, untuk aktuator sistem Autopilot juga pakai mekanisme ini untuk penggerak servo control surface-nya. Ada lagi kah ? saya lupa eh. Mungkin ada yang mau menambahkan. Monggo… 🙂

flight-control

Flight Control : Sistem Elektrik – Mekanik > Trim. Sistem Elektrik – Hidrolik > Flaps. Gambar CN235 US Coast Guard dari https://airbusdefenceandspace.com/wp-content/uploads/2016/07/8.-cn235-mpa-u.s.-coast-guard.jpg

Alhamdulillah.. dari sini bahasan AEI Engineering sudah selesai. Ya, itulah gambaran umum dari bidang AEI Engineering di pesawat. Harapan saya, tulisan ini bisa berikan gambaran tentang hal apa sih yang bisa dikontribusikan anak Tekfis di pengembangan teknologi pesawat terbang. Semoga tulisan yang masih banyak kekurangan ini bisa bermanfaat untuk pembaca semuanya khususnya anak Tekfis.

Insya Alloh serial Teknik Fisika dan Pesawat selanjutnya masih akan ada. Jadi, tunggu saja yaa… 😀

Terima kasih…. 🙂

Posted in Pesawat | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Teknik Fisika dan Pesawat #4 : AEI Engineering (3)

Lanjut ke serial selanjutnya, masih di AEI Engineering. Kali ini adalah bagian kelistrikan atau bahasa kerennya elektrik.

Sistem Elektrik

Sistem elektrik yang ada di pesawat didesain sangat spesifik tergantung jenis dan kebutuhan listrik di dalam pesawat. Misalnya, untuk CN235 memiliki kelistrikan yang lebih kompleks dibanding NC212 karena dan kebutuhannya listrik untuk perangkat di dalam pesawat lebih banyak.

Saya akan coba bahas secara umum saja tentang elektrik ini biar gak terlalu menjurus ke pesawat tertentu. Bagian yang saya kategorikan sebagai sistem elektrik di tulisan ini adalah berdasar pada jenis pekerjaan di tempat kerja saya sekarang. Oke, kita mulai. 🙂

1. Electrical Power Generation and Distribution System (EPGDS)

Power Generation

Bagian ini adalah inti dari sistem elektrik pesawat. Isinya tentang power generation (pembangkitan listrik) dan distribusinya sampai ke perangkat pemakai listrik tersebut. EPGDS ini dibahas dalam ATA Chapter 24.

Power generator di pesawat ada beberapa macam, lagi-lagi tergantung jenis pesawatnya. Di sini akan saya coba ceritakan secara umum berdasar kategori listriknya, yaitu AC (Alternating Current) dan DC (Direct Current) serta tambahan power dari External Power.

a. AC Power Generation

Pada dasarnya listrik AC di pesawat dibagi lagi menjadi dua jenis : AC Wild Frequency dan AC Constant Frequency (istilah ini benar-benar baru saya dapatkan di kerjaan ini. :D)

  • AC Wild Frequency

Listrik AC frekuensi buas. Hahaha. Itukah artinya ? Nggak tau deh apa, intinya itu hanya istilah aja. Sistem pembangkit AC wild ini bersumber dari Alternator yang terpasang di masing-masing engine pesawat (jumlahnya ada dua). Alternator ini punya output power 3-fase 115/200 VAC 26 kVA dimana besarannya tergantung dari kecepatan putar engine pesawat. Yang saya tau, listrik dari alternator ini nggak bisa langsung dipakai kecuali oleh Engine Air Inlet Anti Icing Heaters. Selain itu, power AC wild dari alternator ini masuk ke Transformer Rectifier Unit (TRU) untuk dikonversi jadi listrik DC dan masuk ke DC distribusi.

  • AC Constant Frequency

Untuk kategori listrik AC ini bersumber dari perangkat bernama Inverter. Sudah tau inverter ? Inverter adalah alat yang mengubah listrik DC jadi AC. Output inverter ini adalah 115/26 VAC frekuensi 400 Hz single-phase. Listrik output inverter ini bisa langsung dipakai untuk peralatan avionik atau lainnya yang membutuhkan listrik 26 VAC atau 115 VAC.

b. DC Power Generation

Sistem pembangkitan listrik DC ini lebih beragam, karena outputnya hanya satu jenis, yaitu 28 VDC sesuai dengan kebutuhan listrik peralatan di pesawat. Ada beberapa macam alat pembangkit listrik DC :

  • Generator DC

Pada masing-masing engine pesawat, selain dipasang alternator sebagai generator AC juga dipasang generator DC. Generator DC ini adalah power source DC yang utama di pesawat.

  • Transformer Rectifier Unit (TRU)

TRU ini adalah converter listrik AC dari alternator menjadi listrik DC 28 Volt. Output dari TRU ini sudah bisa digunakan dan masuk ke DC distribusi untuk keperluan listrik DC di pesawat.

  • Baterai

Pesawat juga dilengkapi sistem baterai yang jumlahnya tergantung kebutuhan. Baterai ini bukan source utama, tetapi dijadikan suplai listrik ketika kondisi emergency. Beberapa instrumen utama seperti sistem komunikasi mengambil source listrik dari baterai ini untuk persiapan (back-up) ketika suatu saat terjadi kegagalan di generator DC atau TRU. Baterai ini untuk charging-nya dapat dari generator DC.

cn235-kcg

Gambar CN235 – KCG ambil dari sini : http://jakartagreater.com/wp-content/uploads/2012/05/korea-cn-235-coast-guard11.jpg dengan beberapa perubahan

c. External Power (tambahan)

Power generation yang sudah saya bahas di atas semuanya masuk dalam kategori internal power. Maksudnya internal power adalah sistem tersebut sudah ada dalam pesawat. Ada tambahan lagi yaitu external power yaitu dari GPU (Ground Power Unit). GPU ini dipakai sebagai power source ketika pesawat ada di darat dimana jenisnya bisa AC bisa juga DC. Yang saya tau pesawat yang pakai GPU ini adalah macam pesawat CN235, NC212 dan C295. Kalo pesawat gede macam Boeing 737 ke atas itu saya belum tau deh external power-nya pakai apa.

gpu

Pesawat CN235 – Senegal dengan unit GPU

Sistem power generation di pesawat sudah didesain sedemikian rupa sehingga saling back-up satu sama lain. Ketika terjadi kondisi satu alat power generator fail (katakanlah generator) maka alat lain harus ada yang bisa mem-back-up line power dari alat yang fail tersebut. Ini demi keselamatan selama penerbangan.

Power Distribution

Maksud dari distribusi ini adalah penyaluran listrik dari pembangkitan tadi ke masing-masing peralatan di pesawat. Distribusi listrik di pesawat secara umum dikategorikan berdasar jenis listriknya, yaitu AC dan DC. Sistem distribusi ini customizing banget tergantung si Engineer Design mau kayak gimana. Tapi saya akan coba bahas secara umum bagian-bagiannya adalah seperti ini :

a. Sistem proteksi

Sistem proteksi dirancang dengan tujuan untuk keamanan kelistrikan dan juga keamanan peralatan elektronik. Sistem ini biasanya dimainkan dengan alat macam trafo, dioda, fuse dan circuit breaker. Alat apa itu ? coba deh gugling, pasti nemu banyak

b. Sistem distribusi

Ini maksud saya adalah yang menjurus ke teknis distribusi, mau ke sistem kiri (LH) atau kanan (RH). Customizing design elektriknya ada di sini. Satu pesawat biasanya punya basic configuration, lalu nanti di-customize sesuai kebutuhan. Kalo di sistem ini peralatan yang main adalah relay dan kontaktor (beda jauh ya istilah ini sama kontraktor. :p). Apa itu ? Gugling lagi coba. Melalui mekanisme relay dan kontaktor distribusi ini juga diatur bagaimana penanganan jika terjadi kegagalan pada line distribusi tertentu agar segera di-back-up oleh line lainnya.

fuse-and-contactors-box-jpg

Contoh foto box fuse dan kontaktor sebagai sistem proteksi dan distribusi listrik

Jpeg

Circuit Breaker yang akan dipasang di overhead panel cockpit pesawat

c. Bus bars

Nah, kalo listrik udah sampai di bus bars ini artinya udah deket banget mau sampai ke peralatan elektroniknya. Ini macam batang / plat gitu yang nanti di-tapping oleh koneksi ke per-bagian peralatan tertentu. Ada banyak macam bus bars di pesawat yang biasanya dikategorikan berdasarkan sumbernya misal : Battery Bus, Generator Bus, Hot Bus, Essential Bus, Secondary Bus, dll. Tiap pesawat beda-beda dalam penamaan bus bars ini. Dari bus bar ini nanti keluar listrik lewat fuse dan circuit breaker, lalu sudah deh listriknya sampai ke peralatan avionik yang membutuhkan.

bus-bar

Bus Bars dalam panel circuit breaker pesawat

Itu sekilas tentang EPGDS pesawat yang ternyata udah jadi banyak banget. Hubungan sama Tekfis apa ? Yoo, tetap berhubungan juga meskipun nggak dalem banget belajar soal elektriknya. Dasar soal elektrik kalo di Tekfis itu di matkul Rangkaian Listrik sama Teknik Tenaga Listrik. Karena hanya dapet basic ilmunya dari kedua matkul itu jadinya ya harus memperdalam sendiri kalo memang serius ingin konsen ke bidang elektrik ini.

Sekian dulu ya, insya Alloh nanti disambung lagi.

Semoga bermanfaat. 🙂

Posted in Pesawat | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Teknik Fisika dan Pesawat #3 : AEI Engineering (2)

Oke, topik lanjutan AEI Engineering (2) seputar avionik kali ini saya akan bahas soal teknologi sensor dan kendali di pesawat. Jadi, tolong disiapkan refresh matkul teknologi sensor dan kontrol otomatis yak. Silahkan menikmati :

3. Sensor

Ada banyak sensor di pesawat untuk sensing parameter apapun yang dibutuhkan air crew. Kali ini yang saya bahas adalah sensor yang berhubungan sama avionik saja dulu ya.

  • Pitot-Static System : ini adalah sensor untuk mengetahui ketinggian baro altitude (ketinggian dari permukaan laut) dan airspeed (kecepatan) si pesawat pada kondisi tertentu. Dari sensor itu lalu masuk ke komputer agar datanya bisa diolah secara digital. Komputer itu bernama Air Data Computer (ADC)
  • Angle of Attack : sensor ini untuk mengetahui sudut serang pesawat. Fungsinya adalah untuk warning ketika pesawat akan mencapai kondisi stall. Apa itu stall ? Coba cari di gugel. :p
  • Radio Altimeter : kalo dari pitot-static ketinggian yang terukur adalah terhitung dari permukaan laut. Nah, kalo ketinggian dari permukaan tanah diukur pakai radio altimeter ini. Tau kan bedanya ?
  • Attitude and Heading : attitude itu perilaku pesawat, ada roll (putar sumbu X), pitch (naik-turun / putar sumbu Y) dan yaw (putar dari sumbu Z). Kalo heading adalah arah hadap pesawat. Dulu, sensor untuk attitude-heading ini pakai gyroscope (directional gyro dan vertical gyro). Kalo sekarang sudah pakai accelerometer. Alatnya bernama AHRS (Attitude Heading Reference System)
  • Cuaca : untuk mendeteksi cuaca sekitar yang hubungan dengan turbulensi awan, di pesawat dilengkapi Weather Radar (WXR). WXR ini mendeteksi awan yang mengandung air, jadi pilot nanti bisa tau mana daerah yang ada awan kandungan airnya tinggi, mana yang tipis. Sehingga bisa mengemudikan pesawat lewat jalur yang aman demi keselamatan crew dan penumpang
cn235-sensor

Gambar ambil dari sini http://avia.pro/sites/default/files/cn-235_presidential_airways.jpg dengan beberapa perubahan

4. Display

Display di pesawat maksudnya adalah tampilan dari berbagai parameter yang sudah di-sensing oleh sensor pesawat di atas. Jaman dulu display masih pakai EADI (Electronic Attitude Direction Indicator) dan HSI (Horizontal Situation Indicator). Kalo sekarang sudah integrated dalam satu display bernama EFIS (Electronic Flight Instrument System).

EFIS terdiri atas dua macam display yaitu Primary Flight Display (PFD) dan Multi-Function Display (MFD) atau disebut juga Navigation Display. PFD berisi informasi altitude (baro dan radio), airspeed, attitude, mode navigasi aktif, dll. Kalo MFD biasanya tampilannya berupa compass rose (electric compass) untuk heading dan beberapa display navigasi lain.

Ada lagi tambahan display standby. Maksudnya, display ini sebagai backup jika terjadi kerusakan pada display utama. Isi dalam display standby ini adalah attitude, altitude dan airspeed. Display standby ini biasa disebut IESI (Integrated Electronic Standby Instrument System).

Contoh display ini nih coba saya ambilkan dari gugel di cockpit pesawat Boeing 737

cockpit-boeing

Gambar ambil dari sini https://c1.staticflickr.com/1/634/23304460619_17edb2482c_b.jpg dengan beberapa perubahan

5. Recording

Nah, ini mungkin sudah banyak tau ya. Sistem recording (perekaman) di pesawat berfungsi sebagai alat keselamatan jika terjadi insiden. Ada dua macam sistem recording, yaitu data dan suara. Recording data adalah menggunakan FDR (Flight Data Recorder) sedangkan recording suara menggunakan CVR (Cockpit Voice Recorder). FDR dan CVR ini biasanya disebut black box atau kotak hitam

6. Enhance

Yang saya maksud dengan enhance di sini adalah instrumen tambahan untuk menunjang operasi pesawat. Ini macamnya banyak tergantung jenis pesawat dan keperluannya apa. Semakin kompleks operasi pesawat maka enhance system di sini akan semakin banyak pula. Karena keterbatasan pengetahuan, saya akan coba sebutkan yang basic saja.

  • Transponder (Mode A, Mode C dan Mode S) : alat ini dipakai untuk me-reply interogasi dari bandara yang membutuhkan informasi khusus pesawat untuk mengatur lalu lintas udara (ATC). Informasi dari mode A adalah Flight ID dan Squawk Number pesawat. Mode C memberikan informasi squawk dan baro altitude pesawat. Mode S sama seperti mode C tapi dia bisa digunakan untuk masuk sistem lain yaitu TCAS. Selain itu untuk keperluan lain mode S ini juga bisa ditambah kemampuan ADS-B (Automatic Dependent Surveillance – Broadcast) dimana kebanyakan pesawat pakai sistem ini dalam transponder nya. Ohiya, yang hobi lihat https://www.flightradar24.com itu juga output dari Transponder pesawat ini lo ya. Coba cek di gugel untuk lebih lengkap
  • TCAS (Traffic Collision and Avoidance System) : inti fungsi dari sistem ini adalah mencegah pesawat agar tidak bertabrakan di udara dengan pesawat lainnya. Inputan sistem ini adalah dari Mode S Transponder. Sistem kerjanya adalah permainan interogasi pesawat lain dengan Mode S Transponder itu lalu komputer TCAS akan memberikan caution / warning kepada Pilot apakah harus naik atau turun atau tetap di situ
  • Flight Director / Autopilot : rasanya udah familiar ya sama nama sistem ini. Ini sistem kontrol otomatis banget lo, ada sensor, ada controller dan ada actuator. Ini bisa banget kalo dibikin blok diagram kontrol seperti di buku Nise itu. Hehehe.. Intinya, sistem ini untuk mempermudah pilot menerbangkan pesawat sih. Bayangkan kalo terbang 12 jam-an, masak ya pilot harus megang kemudi terus, capek laah. Haha. Maka itu dipasang Autopilot. Autopilot ini diatur dalam ATA Chapter 22 (Autoflight)
  • GPWS (Ground Proximity Warning System) : ini sistem untuk menunjang keselamatan para crew dan penumpang. Inti fungsinya adalah untuk mencegah supaya pesawat nggak nabrak gunung. Dia memadukan inputan berbagai sensor pesawat, lalu diolah dalam komputer (controller), trus outputnya berupa visual (lampu / display) dan aural (audio) untuk caution / warning ke crew. Udah, singkatnya begitu. Hehe.

Alhamdulillah, selesai sudah soal sistem avionik. Banyak juga ya ternyata. Hehehe.

Seri AEI Engineering ini belum selesai loh, masih ada sistem elektrik. Insya Alloh dilanjut di tulisan berikutnya ya.

Semoga bermanfaat. 🙂

Posted in Pesawat | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Teknik Fisika dan Pesawat #2 : AEI Engineering (1)

Jpeg

Salah satu bidang engineering di flight line adalah AEI (Avionics and Electrical Instrument) system. Pekerjaan AEI yang dilakukan di flight line adalah functional test with engine on (ground run) dan juga flight test oleh personil air crew. Sebelum kedua tes tersebut tentunya sudah ada pekerjaan pendahulu yaitu instalasi dan functional test AEI system with engine off yang dilakukan oleh personil AEI Test Final Assembly Line (FAL).

Seperti yang sudah saya singgung di tulisan sebelumnya, sistem AEI mencakup seluruh peralatan (instrumen) avionik dan elektrik. Berikut coba saya detilkan satu per satu :

Sistem Avionik

Sistem avionik yang terdiri dari beberapa instrumen elektronik yang fungsinya lebih banyak pada arah kendali pesawat itu sendiri ketika terbang / operasi. Saya akan coba kelompokkan beberapa instrumen avionik sebagai berikut :

1. Komunikasi

Pesawat memerlukan instrumen agar bisa berkomunikasi dengan pihak lain seperti ATC (Air Traffic Controller) Bandara, ground station atau pesawat lainnya. Instrumen yang digunakan untuk komunikasi itu adalah sistem radio pada band frekuensi tertentu. Ada tiga band frekuensi yang dipakai, yaitu HF (High Frequency : 3-30 MHz), VHF (Very High Frequency : 30-300 MHz) dan UHF (Ultra High Frequency : 300-960 MHz). Kalo instrumen radionya sendiri yang dipakai ada Radio HF, Radio VHF dan Radio V/UHF (gabungan VHF dan UHF yang frekuensinya antara 30-400 MHz dan ada pula yang sampai 960 MHz)

Personil dalam pesawat itu sendiri (pilot, copilot, cabin crew, penumpang) juga memerlukan instrumen untuk komunikasi antara mereka. Di dalam pesawat kalo udah engine ON, suaranya bising sekali, bahkan buat ngobrol langsung aja gak kedenger kalo gak pake teriak-teriak. Selain itu misal dari cockpit mau ngobrol sama cabin crew yang di belakang kan susah harus jalan ke sana ke mari. Maka itu, untuk mempermudah dipasang instrumen bernama Intercommunication System (ICS) yang berfungsi untuk interkomunikasi dalam pesawat. Ohiya, speaker di kabin itu juga termasuk ICS lho ya.

Pada pesawat yang sudah advance biasanya ditambah satu lagi instrumen komunikasi yaitu Satcom (Satellite Communication). Satcom ini dipakai untuk komunikasi pesawat dengan satelit, biasanya untuk akses data tertentu. Biasanya pesawat yang pakai Satcom ini adalah pesawat militer mission. Nggak tau sih kalo pesawat gede macem Boeing / Airbus komersil itu pakai Satcom juga apa enggak.

Nah, semua hal tentang komunikasi ini sudah diatur dalam regulasi ATA (Air Transport Association of America) Chapter 23. Silahkan kalo mau baca lebih detil, gugling aja yes. Ini coba gambarannya di pesawat C295 Airbus Military dari gugel dengan sedikit tambahan

komunikasi-295

Gambar ambil dari http://jakartagreater.com dengan beberapa editan

Buat anak Tekfis, jelas banget ini matkul yang bakal kepakai kalo mau mendalami bidang komunikasi adalah elektromagnetika, komunikasi data, pengolahan sinyal audio, sistem digital, dll. Kalo anak Tekfis kampus saya pasti sudah pengalaman soal radio komunikasi ini, karena mereka kan sering main antenna. Iyo po ndak ? Hehehe..

2. Navigasi

Sistem navigasi ini filosofinya hampir mirip dengan komunikasi. Dia pakai band frekuensi tertentu juga (yang saya juga gak hapal) dan mainnya model transmit-receive. Sistem navigasi ini diatur dalam ATA Chapter 34.

Alat navigasi di pesawat ada banyak macam. Coba di sini saya sebutkan yang basic ya :

  • VHF Navigation (VOR System) dan DME (Distance Measurement Equipment) : dipakai untuk pemandu pendaratan (ILS – Instrument Landing System). ILS ini terdiri dari beberapa antenna receiver yaitu Localizer, Glide-Slope, Marker Beacon dan DME (Penjelasan masing-masing nanti ya biar penasaran). Pesawat basicly selalu dilengkapi ILS yang bisa dipakai untuk memandu pendaratan di bandara yang sudah pakai ILS. Biasanya sih bandara yang pakai ILS adalah bandara besar seperti Halim PK, Soetta, Juanda, dll. (Bandara Husein belum ada ILS)
  • ADF (Automatic Directional Finder) : ADF ini dipakai untuk menunjuk arah ground transmitter tertentu. Ground transmitter adalah pemancar sinyal yang ada di darat, misal ground base operation, bandara, dll.
  • GPS (Global Positioning System) : Nah ini lebih advance, yaitu pemandu navigasi dari satelit. Navigasi GPS pesawat biasanya dimasukkan ke dalam sistem FMS (Flight Management System) untuk bisa bikin flight plan pesawat mau terbang ke mana saja berdasarkan posisi latitude dan longitude
  • ELT (Emergency Locator Transmitter) : ini peralatan emergency sih. Jadi cuma bekerja saat kondisi emergency misal kecelakaan. Kalo suatu pesawat kecelakaan (jatuh) maka ELT ini akan transmit sinyal di frekuensi emergency (121.5 MHz / 243 MHz / 406 MHz) untuk mempermudah pencarian lokasi pesawat itu

Masih sama ya untuk anak Tekfis matkul yang kepakai pasti soal komunikasi data, telemetri, pengolahan sinyal dan elektromagnetika. Ini gambaran antena navigasi di pesawat C295 Airbus Military yang saya dapet dari gugel.

navigasi-295

Gambar ambil dari http://jakartagreater.com dengan beberapa editan

Wah, udah dapet banyak ya padahal bahasannya masih banyak. Oke sementara udah dulu sampai segini biar gak panjang banget, dan saya juga mau napas dulu ya. Hehehe…

To be continued. Semoga bermanfaat. 🙂

Posted in Pesawat | Tagged , , , , , | Leave a comment

Teknik Fisika dan Pesawat #1 : Overview

Sebelum saya gabung kerja di sini, pengetahuan saya soal pesawat awam banget. Maklum, belum pernah naik pesawat (sampai sekarang pun juga belum pernah. Wkwkwk). Jaman kuliah, saya kepikirnya setelah lulus kerjaannya paling di seputar dunia oil and gas, automation, energy, listrik, manufaktur, atau bidang penelitian. Ini nggak lepas dari para senior saya yang udah lulus memang kebanyakan kerjanya di sana. Tapi, takdir ternyata berkata lain. Alloh memberikan saya rizki dan kesempatan berharga untuk berkarir di dunia penerbangan di sini.

Awal masuk kerja di sini, saya mengira kalo saya bakal ditempatkan di bagian fabrikasi, di tempat pembuatan detail part dari aluminium gitu, urusin perawatan mesin dkk. Tapi ternyata, saya ditempatkan di bagian Flight Line yang pekerjaannya langsung di pesawat. Alhamdulillaah… akhirnya ngerasain naik pesawat juga walaupun di darat aja. Wkwkwk. Dulu saya pikir dunia pesawat itu hanya milik anak Teknik Penerbangan saja, tapi ternyata dunia penerbangan itu multidisiplin ilmu banget.

Nah, di tulisan ini saya mau cerita bahwa anak Teknik Fisika (Tekfis) itu bisa banget lo berkarir di dunia penerbangan. Banyak keilmuan Tekfis yang kepakai di sini. Saya akan coba mulai breakdown dari per bagian keilmuan secara umum di Flight Line ya. Oke, kita mulai :

  1. Propulsi

Propulsi ini berhubungan sama engine dan semua sistem pendukungnya. Jelas, mata kuliah Tekfis yang kepakai termodinamika, mekanika fluida, perpindahan panas dan massa, dll. (matkul paling nyeremin selama kuliah. Banyak korban nilai E nya. Wkwkwkk). Masih inget siklus Brayton kan ? Nah, itulah basic dari engine pesawat (yang udah pakai turbine engine macem pesawat CN235 dan NC212). Ini contoh foto engine CN235 yang di dalemnya pake free turbine dengan sistem kerja siklus Brayton.

Jpeg

  1. Mekanikal / Hidrolik / Pneumatik

Bagian ini sebenernya anak Mesin banget. Tapi inget kan kalo kita di Tekfis jaman kuliah juga belajar dinamika sistem, soal sistem mekanik, lalu hidrolik dan juga pneumatik. Kalo saya sih bener-bener gak paham waktu kuliah dulu. Matkulnya aja dapet C. Wkwkwk. Tapi, secara basic anak Tekfis menguasai juga kok di bagian ini. Mungkin perlu usaha lebih agar bisa lebih advance. Ini contoh sistem gabungan antara mekanik dan hidrolik, yaitu landing gear pesawat CN235.

Jpeg

  1. Struktur

Wah, kalo soal struktur ini ampun deh. Kayaknya susah kalo anak Tekfis masuk sini. Eh, tapi ada juga temen saya anak Tekfis yang masuk bagian struktur ini sebagai spesialis lagi di program development. Tapi memang kata dia butuh effort yang sangat sangaaat besar buat belajar soal struktur. Soalnya memulai dari NOL. Hehe.. Biasanya struktur ini pembahasannya soal crack, stress analysis, dkk. Mesin banget pokoknya. Kalo dulu pas kuliah matkul apa ya yang bahas soal ini ? Fisika dasar mungkin. Hehehe.. Ini salah satu kerjaan orang struktur, structure repair.

Jpeg

  1. Avionik / Elektrik / Instrumen

Naah, ini nih yang anak Tekfis banget menurut saya. Berhubungan sama sensor, kontrol, aktuator, pokoknya dunia instrumentasi. Tekfis banget kan ? Kebetulan saya ditempatkan di bagian ini, jadi insya Alloh nanti banyak cerita.

Oke, avionik ini kepanjangan dari (aviation electronics). Yaa soal elektronik lah, sensor, lalu komputer kontroller, display, dll. Tentu saja matkul yang dipakai di sini adalah teknologi sensor, kontrol otomatis, kontrol modern, elektromagnetika, komunikasi data dan matkul lainnya seputar instrumentasi. Ini nih kalo gambaran soal avionik.

Jpeg

Kalo elektrik, ini lebih ke anak elektro arus kuat sebenernya. Isinya soal power generation and distribution. Tapi jangan salah, anak Tekfis juga bisa kalo mau menekuni belajar banyak. Jaman kuliah dulu udah dikasih basic-nya dari matkul teknik tenaga listrik dan rangkaian listrik. Contoh di bagian elektrik ini adalah soal relay, kontaktor, fuse, circuit breaker dan teman-temannya. Ini contohnya nih.

Jpeg

Kalo instrumen maksudnya ya peralatan pendukungnya. Maksudnya yaa alat alat di bagian avionik dan elektrik tadi itu tuh.

  1. Environment

Bagian ini kebanyakan lagi-lagi “dimakan” sama anak Mesin. Environment ini mengurusi soal cooling system untuk kabin ataupun untuk peralatan apapun yang ada di pesawat agar awet dan tidak rusak karena panas. Selain itu, kalo untuk pesawat CN235 bagian environment ini juga mengurusi soal pressurize system di kabin pesawat. Kalo soal matkul Tekfis pendukung untuk bagian ini ya perpindahan panas dan massa, trus teknik refrigerasi. Contoh produk environment nih, ini ada penampakan pipa saluran avionics cooling untuk display di cockpit area CN235.

Jpeg

  1. Aerodinamik

Bidang ini gak banyak dikerjakan sih di Flight Line karena biasanya sudah disimulasikan sebelum freeze jadi desain turun ke produksi. Kebanyakan juga anak Mesin yang main di sini. Tapi anak Tekfis juga dapet tuh kuliah computation fluid dynamics yang pake fluent dkk. Bisa lah kalo mau ambil soal bagian ini. Nah, ini contoh kerjaan orang aerodinamik di pesawat series. Misalnya ada tambahan external shape macem belly radome begini (lihat gambar), maka orang aerodinamik harus memperhitungkan apakah mengganggu performa terbang pesawat apa enggak sebelum bener-bener dipasang.

Jpeg

  1. Akustik

Sebenernya masih ada banyak, tapi ini saya bikin terakhir deh biar ga panjang-panjang. Akustik, ini kepake untuk kenyamanan para penumpang dan kru di kabin maupun kokpit biar gak bising karena suara engine di luar yang memang keras sekali suaranya. Matkul Tekfis yang kepake jelas adalah akustika, fisika bangunan, fenomena gelombang, dan apalagi ya, saya gak inget juga. Nah, kalo di pesawat untuk kenyamanan biasanya dinding dilapisi sound proofing tuh. Mungkin dulu pas pesawat pertama (prototype) ada pengukuran frekuensi dan parameter akustik lainnya gitu. Tapi selama ini saya belum pernah tau sih, soalnya saya mainnya di pesawat series. Nah, ini contoh sound proofing yang dipakai di pesawat CN235.

Jpeg

Itulah sekilas tentang keilmuan Tekfis yang dipakai di pesawat menurut versi saya. Mungkin masih banyak lagi keilmuan Tekfis yang dipakai di pesawat, tapi mohon maaf nggih karena keterbatasan pengetahuan saya, ingetnya cuma segitu. Intinya, Tekfis itu general engineering. Maksudnya keilmuannya itu luas banget mencakup hampir semua keilmuan engineering tapi kebanyakan hanya sebagai basic saja. Jadi, mau ditempatin dimana aja pasti ada basic kecocokannya, tinggal bagian mana yang mau diperdalam untuk spesialisasi.

Insya Alloh nanti lain waktu dilanjut lagi, kalo ada yang kurang akan saya tambahkan.

Semoga bermanfaat. 🙂

Posted in Pesawat | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Ruang LSR Pagi Itu

Pagi itu saya dan senior saya mendiskusikan sesuatu untuk adjustment software parameter IESI (Integrated Electronic Standby System) di pesawat CN235. Parameter yang harus diisi di antaranya adalah airspeed (Vfe, Vne, Vmo, dll), attitude (pitch, roll angle) yang ini spesifik sesuai karakter CN235. Senior saya lalu mengajak saya menemui mbahnya CN235, yaitu Pak Jatmiko di ruang LSR, ruangan beliau.

Ruang LSR ini sebenernya bukan ruangan yang khusus untuk perseorangan. Letakknya di pinggir Hanggar FAL. Entah LSR itu singkatan dari apa, tapi ruangan ini lebih banyak ditempati oleh orang-orang PPC (Production Planning Control), Process Dispatcher dan Kitting (yang mendistribusikan material). Nah, meja Pak Jatmiko ini ada di paling belakang ruangan.

Sampai di ruangan, kami mengobrol dan dengan cepat mendapatkan berapa saja parameter yang harus diisikan. Lalu senior saya berpamitan mau langsung eksekusi, dan saya pun juga mengikuti. Eh, pas saya pamitan, Pak Jatmiko malah nahan saya.

“Sebentar Dik, saya ada perlu sama kamu”, kata beliau. “Ada apa Pak ?”, saya tanya balik. “Soal proposal gimana ?”, beliau nanya soal proposal yang pernah ditugaskan ke saya. Akhirnya kami bahas itu proposal yang sebenernya sudah hampir selesai saya kerjakan, tinggal print saja.

Lalu beliau memulai obrolan lain tentang topik spiritual. Beliau cerita banyak dari awal beliau dulu bagaimana lalu dapat hidayah dari putri beliau yang terus menerus mengingatkan soal Taqwa. Beliau juga cerita soal para teman-temannya yang bersama beliau membangun N250, kehidupannya jaman itu sampai sekarang.

Seperti biasanya, beliau beberapa kali menyodorkan HP-nya ke saya untuk membacakan ayat Al Quran (karena di HP saya ga ada Al Quran-nya. Hehe). Intinya sebenernya sebagai pesan dan pengingat untuk beliau pribadi dan ke saya.

Ada satu hal yang paling saya ingat dari obrolan kami ini, yaitu tentang topik sedekah. Beliau menceritakan pengalamannya ketika memberikan uang untuk pengemis di depan sebuah supermarket. Setiap keluar pintu parkir, beliau memberikan uang ke pengemis tersebut. Namun, sampai tiga kali beliau berkunjung ke sana selalu ketemu sama pengemis itu.

Akhirnya beliau jengkel dan bilang ke putrinya kurang lebih begini, “ini orang kok gak mau usaha banget, dari kemarin tetep aja mengemis di sini. Jangan-jangan pura-pura nih orang jadi pengemis”. Lalu putrinya jawab, “Pa, nggak boleh bilang gitu. Bisa jadi dia dateng untuk mengemis ke Papa itu adalah teguran dari Alloh kalo sedekah Papa itu kurang dan perlu ditambah lagi. Masalah dia bohong atau enggak itu urusan dia sama Alloh, kita gak perlu ikut campur. Yang kita perlu lakukan hanya bersedekah untuk mengharap ridho Alloh.”

Deg.. bener juga apa yang dibilang itu. Seringkali saya juga itu kepikiran itu kalo mau ngasih uang ke pengemis. Padahal tujuan ngasih ke pengemis itu kan untuk sedekah dan mengharap ridho Alloh, bukan menyoalkan dia bener-bener pengemis atau enggak. Masalah dia bohong itu kan urusan dia sama Alloh.

Saya baru menyadari, ternyata Pak Jatmiko bercerita ini sambil menitikkan air mata. Beliau bener-bener cerita ini dari hati terdalam beliau. Mungkin ini juga adalah sebagai pengingat untuk saya yang masih sering lalai. Rasanya bersyukur sekali bisa bertemu orang-orang baik seperti beliau ini, yang sering berpesan kebaikan untuk saya baik melalui grup ataupun wasap pribadi.

Nggak kerasa, bel hanggar berbunyi, ternyata sudah jam 11.30, waktu istirahat. “Wah, sudah istirahat saja Dik, gak kerasa ya. Hahaha”, kata beliau sambil ketawa. “iya nih Pak. Hahaha”, saya ikut ketawa juga. Artinya setengah hari ini saya nggak kerja di pesawat, senior saya saja yang tadi itu kerja di pesawat sendirian. Hahaha. Maaf yaa Pak.

Sebelum kami makan siang, Pak Jatmiko berpesan satu ayat buat saya. “Dik, kalo kamu ingin bahagia, perbanyak sedekah. Gak ada ceritanya orang jadi miskin karena sedekah”, pesan beliau. Ini ayatnya :

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqoroh 274)

Posted in Hanggar | Tagged , , , | Leave a comment

Helikopter

Jpeg

Pagi itu saya ditugaskan buat “jemput bola”ke hanggar painting karena memang pesawat saya sedang dicat di sana. Perjalanan dari hanggar saya ke painting itu lewat Hanggar Rotary Wing atau helikopter dan apron untuk helikopter yang akan terbang. Kebetulan pas lewat apron, ada sebuah helikopter yang akan terbang, jadinya saya ditahan dulu gak boleh lewat. Akhirnya nonton dulu deh itu helikopter mau terbang.

Sambil nonton nunggu si helikopter itu terbang, saya malah jadi baper, eh, maksudnya keinget jaman masih kecil dulu sering diajak Bapak nonton helikopter yang sedang ground run atau mau terbang di apron milik salah satu pabrik besar di kota saya. Emm,,, waktu itu kira-kira saya masih SD lah (kalo sebelum SD mestinya saya gak inget). Saya masih inget lamat-lamat rasanya asik banget waktu itu nonton helikopter yang sedang ground run. Angin hasil kibasan blade-nya kerasa kuat meskipun saya ada di jarak udah jauh. Rasanya pengen waktu itu saya bisa ikut terbang naik helikopternya. Hehehe..

Ah, jadi keinget Bapak. Apa kabar Bapak ? Semoga sehat sehat saja nggih. 🙂

Bapak buat saya orangnya pengertian meskipun gak banyak kata berucap. Apa ya, langsung to the point gitu action tanpa banyak ngasih wejangan ini itu. Biasanya kalo beliau mau berpesan sesuatu, jarang disampaikan langsung, biasanya lewat pertanyaan-pertanyaan yang bikin saya mikir keras (lebay. Haha). Dari pertanyaan itu saya jadi merenung dan dapet jawaban sendiri (entah ini jawaban bener apa salah. Hehehe) tapi intinya itu jawaban terbaik lah. Kalo masih salah tolong diluruskan nggih. xD

Deru engine si helikopter makin keras dan tubuhnya mulai terangkat naik lalu membuyarkan lamunan saya soal masa lalu. Ah, sudahlah waktunya siap-siap gerak nyebrang apron. Biarlah lamunan itu jadi pengingat tentang Bapak dan masa kecil saya yang indah. Hehe..

Waktunya balik ke kenyataan. Yuk, digarap pesawatnya. 🙂

Posted in Hanggar | Tagged , , , , | Leave a comment

Nimbang Pesawat

Aaaaakkkk….. di hari ke-30 (terakhir) malah gak bisa nulis… maaf yaaa 😦

Jadi ceritanya semalem itu saya kena overtime yang terlalu over. Hahaha. Awalnya sih rencananya cuma normal saja, tapi malah kebablasan. Pas saya turun di hanggar, rencana saya ke pesawat N110, katanya lagi mau benerin lighted panel di kokpit yang kemarin mati, tapi malah ketemu bapak-bapak hanggar. Beliau minta dibantu buat nimbang pesawat N65 untuk keperluan first flight. Sebenernya ini bukan bagian saya sih, tapi yaudah lah gak ada salahnya juga kalo saya belajar gimana sih nimbang pesawat (bahasa kerennya nimbang = weighing).

Saya masuk ke dalam pesawat N65 dan kaget, “matilah ini”, ternyata di dalam masih baru mulai pasang support dan interior. Padahal kalo mau nimbang itu harus sudah lengkap semuanya. Waktu itu udah menjelang maghrib. Ya sudah, pasrahlah saya sembari nyari cara melarikan diri. Wakakaa. Tapi ternyata sampai dimulainya nimbang sekitar jam 21.00 an, saya gagal melarikan diri. Hikss..

Nah, nimbang pesawat dimulai. Saya pengen ceritain dikit nih,

Jadi nimbang pesawat semalam itu dilakukan pakai platform. Ada lima platform yang dipakai, masing-masing nanti dipasang di roda pesawatnya (depan 1, tengah kiri 2, kanan 2). Ohiya, platform ini sebenernya timbangan itu lho, jadi nanti buat ngitung beratnya di titik itu berapa.

weighing

Platform disiapkan di belakang masing-masing roda itu, trus pesawatnya nanti ditarik atau didorong ke atas platform itu. Kalo udah di atas, towing bar dilepas, trus angka di masing-masing platform sudah bisa dicatat tuh berapa kilogram berat di masing-masing roda. Kalo udah dicatat, per nilainya nanti harus dikoreksi pakai error timbangan yang nanti muncul pas pesawat udah turun dari platform. Nilai error paling sekitar plus minus 1 lah. Nah, nilai kelima titik itu lalu dijumlahkan dan jadilah itu berat pesawat. Karena semalam itu kondisi pesawat tanpa fuel, maka disebutnya hasil timbangan itu adalah “empty weight aircraft”. Nilainya semalem dapet sekitar 8.900 kg-an.

Semalam itu kebetulan engineering weighing nya kebetulan lagi assessment metode nimbang. Jadi, gak cuma sekali saja ambil datanya, sampai lima kali malah. Assessment ini dilakukan dengan memutar platform sebanyak lima kali untuk kompensasi error alat ukur. Hasilnya setelah dihitung-hitung ternyata gak beda jauh. Kesimpulannya platform ini errornya masih bisa ditolerir lah. Jadi metode nimbang pakai platform nanti bisa dijadikan pengganti metode nimbang sebelumnya yang pakai load cell.

Akhirnya, nimbang semalam selesai jam 22.42. Keluar kawasan sekitar pukul 23.00, sampai kosan jam 23.45. Sudahlah, mau nulis day 30 gak cukup, akhirnya saya ikhlaskan saja. 😀

Ohiya, ini nih saya share foto-fotonya.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Udah, itu caranya nimbang pesawat. Gampang kan. 😀

Semoga bermanfaat. :))

Posted in Challenge | Tagged , , , , | 2 Comments