Ruang LSR Pagi Itu

Pagi itu saya dan senior saya mendiskusikan sesuatu untuk adjustment software parameter IESI (Integrated Electronic Standby System) di pesawat CN235. Parameter yang harus diisi di antaranya adalah airspeed (Vfe, Vne, Vmo, dll), attitude (pitch, roll angle) yang ini spesifik sesuai karakter CN235. Senior saya lalu mengajak saya menemui mbahnya CN235, yaitu Pak Jatmiko di ruang LSR, ruangan beliau.

Ruang LSR ini sebenernya bukan ruangan yang khusus untuk perseorangan. Letakknya di pinggir Hanggar FAL. Entah LSR itu singkatan dari apa, tapi ruangan ini lebih banyak ditempati oleh orang-orang PPC (Production Planning Control), Process Dispatcher dan Kitting (yang mendistribusikan material). Nah, meja Pak Jatmiko ini ada di paling belakang ruangan.

Sampai di ruangan, kami mengobrol dan dengan cepat mendapatkan berapa saja parameter yang harus diisikan. Lalu senior saya berpamitan mau langsung eksekusi, dan saya pun juga mengikuti. Eh, pas saya pamitan, Pak Jatmiko malah nahan saya.

“Sebentar Dik, saya ada perlu sama kamu”, kata beliau. “Ada apa Pak ?”, saya tanya balik. “Soal proposal gimana ?”, beliau nanya soal proposal yang pernah ditugaskan ke saya. Akhirnya kami bahas itu proposal yang sebenernya sudah hampir selesai saya kerjakan, tinggal print saja.

Lalu beliau memulai obrolan lain tentang topik spiritual. Beliau cerita banyak dari awal beliau dulu bagaimana lalu dapat hidayah dari putri beliau yang terus menerus mengingatkan soal Taqwa. Beliau juga cerita soal para teman-temannya yang bersama beliau membangun N250, kehidupannya jaman itu sampai sekarang.

Seperti biasanya, beliau beberapa kali menyodorkan HP-nya ke saya untuk membacakan ayat Al Quran (karena di HP saya ga ada Al Quran-nya. Hehe). Intinya sebenernya sebagai pesan dan pengingat untuk beliau pribadi dan ke saya.

Ada satu hal yang paling saya ingat dari obrolan kami ini, yaitu tentang topik sedekah. Beliau menceritakan pengalamannya ketika memberikan uang untuk pengemis di depan sebuah supermarket. Setiap keluar pintu parkir, beliau memberikan uang ke pengemis tersebut. Namun, sampai tiga kali beliau berkunjung ke sana selalu ketemu sama pengemis itu.

Akhirnya beliau jengkel dan bilang ke putrinya kurang lebih begini, “ini orang kok gak mau usaha banget, dari kemarin tetep aja mengemis di sini. Jangan-jangan pura-pura nih orang jadi pengemis”. Lalu putrinya jawab, “Pa, nggak boleh bilang gitu. Bisa jadi dia dateng untuk mengemis ke Papa itu adalah teguran dari Alloh kalo sedekah Papa itu kurang dan perlu ditambah lagi. Masalah dia bohong atau enggak itu urusan dia sama Alloh, kita gak perlu ikut campur. Yang kita perlu lakukan hanya bersedekah untuk mengharap ridho Alloh.”

Deg.. bener juga apa yang dibilang itu. Seringkali saya juga itu kepikiran itu kalo mau ngasih uang ke pengemis. Padahal tujuan ngasih ke pengemis itu kan untuk sedekah dan mengharap ridho Alloh, bukan menyoalkan dia bener-bener pengemis atau enggak. Masalah dia bohong itu kan urusan dia sama Alloh.

Saya baru menyadari, ternyata Pak Jatmiko bercerita ini sambil menitikkan air mata. Beliau bener-bener cerita ini dari hati terdalam beliau. Mungkin ini juga adalah sebagai pengingat untuk saya yang masih sering lalai. Rasanya bersyukur sekali bisa bertemu orang-orang baik seperti beliau ini, yang sering berpesan kebaikan untuk saya baik melalui grup ataupun wasap pribadi.

Nggak kerasa, bel hanggar berbunyi, ternyata sudah jam 11.30, waktu istirahat. “Wah, sudah istirahat saja Dik, gak kerasa ya. Hahaha”, kata beliau sambil ketawa. “iya nih Pak. Hahaha”, saya ikut ketawa juga. Artinya setengah hari ini saya nggak kerja di pesawat, senior saya saja yang tadi itu kerja di pesawat sendirian. Hahaha. Maaf yaa Pak.

Sebelum kami makan siang, Pak Jatmiko berpesan satu ayat buat saya. “Dik, kalo kamu ingin bahagia, perbanyak sedekah. Gak ada ceritanya orang jadi miskin karena sedekah”, pesan beliau. Ini ayatnya :

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqoroh 274)

Advertisements

About didik

Sedang menikmati dunia dari hanggar, apron dan runway. Berusaha menuliskan catatan tentang apa saja yang didapatkan dari sana bersama angin kencang, desingan propeller dan alunan rivet
This entry was posted in Hanggar and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s