Curiosity

Saya masih ingat banget dengan seorang Bapak Dosen saya dulu yang pernah posting gambar George (si curious monkey) di facebook dan diberi caption kurang lebih begini :

“George is more curious than most of my student”

Awal baca, pikiran saya campur aduk antara mau ketawa atau mau sedih. Mau ketawa kenapa ? Karena menurut saya statement itu ada sisi humorisnya. Tapi di sisi lain saya sedih karena saya juga adalah mahasiswa beliau. Artinya saya pun masih kalah curious daripada si monyet itu. 😦

Saya mencoba menebak kenapa Dosen saya mengeluarkan statement itu. Kalau menurut yang saya amati, ini nggak lepas dari perkuliahan yang beliau bawakan, yaitu Pengolahan Sinyal. Nah, ini adalah salah satu mata kuliah yang sangat, sangat dan sangat absurd, susah dipahami (bagi saya). Bapak Dosen saya ini di awal kuliah sebenarnya juga sudah menyampaikan kalau mata kuliahnya ini sulit, lalu beliau ngasih motivasi begini, “jika kalian berhasil menguasai mata kuliah ini, maka kalian akan bisa membuat dunia tersenyum”. 🙂

Ketika kuliah, kebanyakan semuanya berjalan searah yaitu dari Pak Dosen menyampaikan materi dan mahasiswa cuma ngangguk-ngangguk termasuk saya. Gak tau apakah sudah ngerti atau belum, yang penting ngangguk. Haha.. Akhirnya ketika Pak Dosen meminta feedback baik berupa pertanyaan atau protes ya gak ada mahasiswa yang ngasih. Ada paling satu orang ya itu itu saja, memang anaknya di atas rata-rata sih.

Bapak Dosen saya kemudian berikan tugas untuk bikin Critical Review untuk materi yang akan beliau sampaikan. Harapannya dari situ akan muncul banyak pertanyaan ke bapaknya. Tapi apalah, tetep aja yang bisa nanya yaa orang itu aja yang sama. Mahasiswa lain seperti saya ini hanya dengerin aja dan cuma berapa persen aja yang nyangkut di otak. Hehe.. Yah, akhirnya tetep aja pancingan curiosity dari dosen saya untuk para mahasiswa ini masih mental. Pemikiran kritis mahasiswa yang beliau harapkan ternyata masih belum bisa keluar sepenuhnya.

Curiosity biasanya kita kenal dengan rasa ingin tahu, atau anak jaman sekarang nyebut kepo. Menurut saya ini berhubungan dengan ketertarikan atau passion seseorang. Bagi seorang yang tidak punya ketertarikan pada suatu hal, maka akan susah baginya untuk mengorek lebih dalam pada hal itu. Namanya juga udah gak tertarik, ya udah biarin aja mau bagaimanapun. Beda halnya dengan seorang yang tertarik pada hal tertentu, maka sekecil apapun informasi tentang hal itu bakalan dikorek habis-habisan sampai akarnya.

Contoh sederhananya, misal ada seorang seneng banget modifikasi sepeda motor untuk keperluan tertentu. Baginya, informasi update sedikit apapun seputar motor akan dia perdalam sampai akarnya dan sampai dia menguasai ilmu baru itu.

Seseorang menemukan curiosity pada satu hal terkadang juga melalui bermacam cara. Ada yang dengan cara dia memperdalam terus by theory dan ada juga yang dengan praktek langsung aplikasi. Bagi orang yang menyukai pendalaman teoritis, mereka akan kuat berlama-lama tenggelam dalam literatur untuk memuaskan hasrat curiosity mereka. Kalau saya sendiri adalah tipikal yang kedua, by practical, karena saya tidak kuat jika terlalu lama tenggelam dalam literatur-literatur.

Ada satu hal menarik yang saya temukan dalam kerja saya saat ini, yaitu saya temukan curiosity yang dimaksud oleh dosen saya itu. Awal yang menumbuhkan curiosity saya adalah tentang pesawat. Bagi saya pesawat adalah teknologi tinggi yang keren. Saya merasa tertantang untuk bisa menguasai teknologi ini meskipun saya belum pernah merasakan langsung naik pesawat itu gimana.

Ketika saya coba breakdown sistem apa saja yang ada di pesawat, rasa penasaran / ingin tahu / curiosity saya ini malah makin menjadi jadi. Semakin rumit sistemnya, semakin penasaran juga saya ingin bisa paham dan mengerti. Apalagi kalau sudah dibumbui “sulit” oleh senior, maka bagi saya itu adalah tantangan yang harus saya jawab. Rasa penasaran

Ketika kegiatan troubleshooting sistem, saya akan berusaha explore sedalam-dalamnya apa sih root cause-nya, kenapa bisa gini, kenapa bisa gitu. Bahkan seringkali malah fisik saya yang nggak kuat, padahal keinginan saya masih kuat untuk lanjut. Kadang juga malah kebawa mimpi, turun ke lapangan, lalu nemuin solusi, seneng, eh ternyata cuma mimpi. Hehe..

Yah, itulah yang saya rasakan sekarang. Menurut saya mungkin ini yang dimaksud Dosen saya dulu tentang istilah curiosity. Bagi saya, apa yang sedang saya rasakan ini adalah bentuk motivasi yang tak ada matinya untuk terus memperdalam keilmuan tentang suatu hal tertentu.

Kadang saya bertanya pada diri saya sendiri, kenapa rasa seperti ini nggak keluar pas jaman kuliah dulu ? Ya, mungkin jawabannya seperti paragraf atas itu, bahwa bagaimana memunculkan curiosity itu tergantung setiap individu. Nah, kalau saya ini munculnya karena tipikal saya sendiri adalah orang practical yang kebetulan juga sekarang bergelut di dunia praktis. Nyambung jadinya, karena sesuai dengan passion saya sendiri juga. Sedangkan dulu jaman kuliah semuanya by theory, jadinya saya susah memvisualisasikan apa sih sebenarnya yang sedang saya pelajari, dan buat apa juga saya pelajari itu. Karena motivasi, passion itu nggak ada, maka curiosity saya pun juga nggak keluar secara optimal. Adanya paling cuma pertanyaan kritis seadanya karena tuntutan nilai saja. Hehehe..

Jadi kesimpulannya menurut saya, kalau memang ingin mengeluarkan curiosity dalam diri kita, coba tanya pada diri kita sendiri tentang kenapa sih kok saya harus curious pada satu hal itu, menariknya apa, urgensinya apa, manfaatnya apa, dan seterusnya. Gali terus saja dan pada akhirnya kalau sudah dapet titik temunya insya Alloh rasa penasaran dan ingin tahu itu akan keluar. Selama kita belum bisa menemukan apa hal menarik dari sesuatu yang ingin kita perdalam, rasa penasaran / curiosity akan susah untuk keluar sepenuhnya.

Itulah sedikit pandangan saya tentang curiosity. Semoga bermanfaat. 🙂

Advertisements

About didik

Hanggar, apron dan runway adalah tempat yang paling menyenangkan. Angin bertiup kencang dengan iringan desing putaran propeller adalah pelengkap sempurna untuk menikmati duduk sejenak di tepi hanggar ini sambil mengisi lembaran catatan harian.
This entry was posted in Hanggar, Perspektif and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s